Home » , , » Asal-Muasal Tasawuf

Asal-Muasal Tasawuf

Oleh: A.A. Danie | 15 Jul 2012 | 15.13



Tasawuf dipandang berasal dari banyak nama. Kitab 'Awarif al-Ma'arif secara khusus memuat pendapat para sufi tentang makna tasawuf. Ada yang mengatakan ia berasal dari kata ahlus shufah, yaitu para sahabat Nabi yang tinggal di beranda masjid. Ada yang mengatakannya berasal dari kata shuf yang artinya kain domba, karena orang - orang soleh waktu itu mengenakan pakaian dari kulit domba sebagai simbol kesederhanaan. Ada juga yang mengatakan tasawuf berasal dari kata shaf yang artinya kesucian. Ada pula yang menyebutkan sebagai terjemahan dari bahasa Yunani, sophia, yang artinya hikmah.


Tasawuf dikenal pula dengan banyak nama. Bagi yang mengartikannya sebagai sebuah proses untuk mengenal Tuhan (sesuai perkataan yang disandarkan kepada Imam Ali krw., man 'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbahu), mereka menamai ilmu ini dengan ilmu irfan. Bagi yang memandangnya sebagai sebuah jalan menuju Tuhan, mereka menyebutnya dengan istilah tarekat. Bagi yang melihatnya sebagai sebuah metode pendisiplinan diri dan pengabdian, mereka menggelarinya dengan ilmu al-syar wa suluk. Bagi yang mengkhususkannya sebagai cara untuk belajar "langsung" dari Tuhan, tasawuf dikenal dengan sebutan ilmu hudhuri, atau ilmu ladunni.

Walhasil, tasawuf pada hakikatnya adalah keberagamaan itu sendiri. Sebagaimana keberagamaan, ia pun dibagi ke dalam dua tipe: ekstrinsik dan intrinsik. Keberagamaan (dan tasawuf) yang ekstrinsik ditandai dengan keberagamaan yang simbolis. Yang terikat pada penampilan-penampilan lahiriah. Yang pergi mengaji karena ada ustad yang kocak, atau yang menjanjikan tangisan, atau yang hanya pergi untuk keperluan kehidupan sosialnya.
Keberagamaan (dan tasawuf) yang intrinsik dipelajari dengan merenung dan mencari jauh ke dalam diri; berusaha memahami makna di balik ayat-ayat Ilahi, baik yang tasyi'ri maupun yang takwini. Keberagaman yang intrinsik ditandai dengan tujuan seperti dikutip Emha dalam syairnya "Muhammadkan Hamba ya Rabbi!".

Muhammadkan hamba ya Rabbi, hamba yang hina dina Seperti siang-malam-Mu yang patuh dan setia Seperti bumi dan matahari yang bekerja samaMenjalankan tugasnya, dengan terpelihara.Muhammadkan hamba, ya RabbiDi setiap tarikan nafas dan langkah kaki Tak ada dambaan yang lebih sempurna lagi,Di ufuk jauh kerinduan hamba, Muhammad berdiri.

Tasawuf dan Dunia Modern

Belakangan, tasawuf ramai diminati. Kajian tentangnya digelar bukan hanya di masjid, tapi juga di hotel-hotel mewah. Tasawuf tidak lagi milik sekelompok kecil yang belajar di surau kampung. Tasawuf kini berputar di ruangan orang-orang kaya. Apa pasal?

Kehidupan modern telah membawa manusia pada apa yang disebut Ashley Montagu, seorang peneliti sosial, dehumanization of man, dehumanisasi manusia. Bukannya makin beradab, manusia makin kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya. Saya mengartikan dehumanisasi manusia itu dengan: bahwa sudah tidak terlihat lagi sesuatu yang membedakan manusia dengan makhluk selainnya.


Ambilah hadis Nabi tentang membalas keburukan dengan kebaikan, dan bandingkan dengan kehidupan kita sekarang ini. Saya tidak ingat persis redaksi hadisnya, tapi-kalau tidak salah- Nabi diriwayatkan berkata bahwa tabiat untuk membalas kebaikan dengan kebaikan, itu dimiliki oleh seluruh makhluk. Binatang buas sekalipun akan takluk karena kebaikan kita, al-insan 'abd al-ihsan, manusia itu hambanya kebaikan. Anjing yang menggonggong dengan kasar terhenti manakala sepotong tulang diberikan kepadanya. Adapun bila kebaikan dibalas dengan keburukan, maka binatang yang liar sekalipun takkan melakukannya. Manusia yang membalas kebaikan dengan keburukan sudah lebih buruk bahkan dari binatang, bal hum adhal, bahkan mereka lebih sesat lagi. Karakteristik yang membedakan manusia dengan binatang, yang kemudian menjadikannya manusia, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaannya, adalah ketika ia membalas keburukan dengan kebaikan. Inilah yang tak mampu dilakukan hewan-hewan. Inilah yang mengangkat derajat kita menjadi makhluk yang lebih mulia.


Tentu masih ingat cerita ketika Nabi Saw sering dilempari sampah oleh seorang kafir, setiap kali beliau berangkat ke Baitullah. Hingga satu ketika, lemparan sampah itu terhenti. Nabi mendongak ke atas, orang kafir itu tak tampak. Bertanyalah Nabi kepada para sahabatnya. Disampaikanlah bahwa orang kafir itu sedang dirundung sakit. Apa yang Nabi lakukan? Beliau menjumpainya, mengunjunginya, dan mendoakan kesembuhannya. Orang kafir itu pun menyatakan keislamannya.


Proses dehumanisasi manusia terjadi, ketika manusia melupakan tujuan kehidupannya. Ketika ia terbawa oleh kisah-kisah penjahit yang melenakannya. Untuk itulah tasawuf ramai dikaji, seolah-olah hadir sebagai pengingat. Mirip orang kota dalam cerita Rumi. Ia barang lama. Sudah datang pengingat dan pendakwah, tapi kini ia dikemas dalam bentuk baru. Diberilah label "ilmu tasawuf". Padahal, tasawuf adalah keislaman itu sendiri. Akarnya ada pada ajaran-ajaran Islam. Mengaji tasawuf berarti menilai ulang keislaman kita sendiri. Yang juga tak kalah pentingnya, dehumanisasi manusia terjadi karena manusia kehilangan cinta. Tasawuf adalah ilmu yang sepenuhnya didasarkan pada cinta, pada rahman dan rahim Allah Swt. Miftah F. Rakhmat (Posted by Qalamedia Online).





Yuk, Bagikan!

Posting Komentar

Sebagai ungkapan silaturahim, berikan komentar Anda!

 
Copyright © 2014. Qalamedia Online - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger