Home » » Anda Juga Merasakannya, 'Kan?

Anda Juga Merasakannya, 'Kan?

Oleh: A.A. Danie | 15 Jul 2012 | 14.40

Suatu hal yang tidak bisa kita pungkiri, Allah swt. telah mengalirkan nilai estetika di dalam jiwa kita. Kita 'tersentak' bila mendengar nyanyian yang mengalir dari melodi yang indah. Jiwa segar karenanya. Musik bisa menjadi stimulus apabila pikiran kita apabila sumpek.Bukankah sering kali terjadi perasaan kita begitu mudah tersentuh hanya apabila merasakan kepiluan dan derita yang tertata apik dengan aliran melodi di TV. Ada orang yang terkadang menangis degan sembunyi-sembunyi ketika mendengarkan nyanyian Ebit G. Ade tentang Tuhan dan alam, Haddad Alwi dan Sulis tentang Rasul dan Ahlulbait, atau nasyid tentang Palestina.

Betapa sering jiwa merasakan kita berada di dalam deskripsi syair-syair mereka. Begitu hidup. Begitu kuat. Begitu nyata kita merasakannya mengalir dahsyat dalam relung kalbu. Dan airmata pun meneteslah. Dan jiwa pun plong-lah setelah itu. Dan semangat pun membaralah. Amboi! 

Namun suatu hal pula yang selalu mengganjal pikiran, betulkah semua nyanyian, musik, dan melodi itu adalah kendaraan setan untuk meninabobokkan manusia, yang mengantarkannya kepada kelalaian? Betulkah tafsiran ayat "lahw al-hadits" adalah nyanyian setan? Betulkah alat-alat musik diharamkan di dalam Islam karena semua itu? 
Masih segar dalam ingatan saya ketika seorang aktivis dakwah 'mencak-mencak' dalam suatu penataran mubalig Yayasan MITRA Center, Kendari, karena mendengar suara elekton dan melihat saya memainkan instrumentalia. 
"Musik adalah bid'ah! Tidak seorang imam mazhab pun yang membolehkannya!", dampratnya kepada saya setelah kembali ke kamar hotel tempat kami menginap. 
"Kita ke sini mau ditatar jadi mubalig, bukannya mau bermain musik. Aku kecewa!", tambahnya.
Saya mencoba menenangkan perasaan. Memori saya berputar kembali kepada buku-buku yang memuat pandangan ulama tentang seni musik yang pernah kubaca.
"Tidak semua ulama juga mengharamkan, Akhi. Saya pernah membaca pendapat Syekh Mutawalli Sya'rawi tentang itu, bahkan pernah mengkajinya dalam karya ilmiah", komentar saya datar. 
Tampak wajahnya memerah dengan jawaban itu, sehingga cepat-cepat saya mencairkan suasana yang mulai ‘hangat’ itu. "Saudaraku, kita ke mari untuk menjalin silaturahim dan mempererat ukhuwah, bukannya untuk bertengkar. Silaturahim kan wajib, sedangkan betengkar haram", kata saya kepadanya, "dan dalam pemahaman saya, ini adalah ikhtilaf yang tidak perlu kita pertengkarkan, karena tidak ada penyatuan pendapat tentangnya hingga kiamat tiba."
Alhamdulillah, dia terhenyak dengan jawaban itu. Wajahnya kembali berseri.
Di dalam perjalanan saya selanjutnya, saya mulai 'jatuh cinta' dengan nasyid yang disebut-sebut oleh sebagian aktivis dakwah sebagai seni musik alterntif. 
Saya serasa menemukan format dalam nuansa dakwah yang baru. Tetapi, tidak semua orang menyukai nasyid dengan mengatasnamakan alasan syar'i. Seperti halnya demonstrasi atau berdakwah di legislatif, nasyid pun kembali dianggap bid'ah. "Semua sama," kata mereka, "tidak punya landasan syar'i".
Dus, kalau musik dan perasaan estetika itu haram, mengapa Tuhan melekatkannya dalam jiwa kita? Anda juga merasakannya, kan?
  والله أعلم بالصواب
Yuk, Bagikan!

Posting Komentar

Sebagai ungkapan silaturahim, berikan komentar Anda!

 
Copyright © 2014. Qalamedia Online - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger